A piece of Takmiroh’s story part #2 – Bahagia dalam Keterasingan

different

Mungkin saya dianggap tidak gaul karena tak pernah mau diajak main dengan teman-teman satu kelompok saya. Mungkin saya dianggap aneh karena memakai masker kain ke mana-mana. Mungkin saya dianggap tak wajar karena tak pernah mau foto bersama. Mungkin saya dianggap kaku karena begitu membatasi interaksi dengan mereka, para lelaki.

Ketika musik di ruangan dinyalakan, saya pergi atau menutup telinga. Ketika berjalan, lebih sering menatap ke tanah. Segera keluar dari ruangan ketika pelajaran selesai, tak larut dalam pembicaraan mereka. Begitu sulit tersenyum ketika lelucon tak berguna dilontarkan. Tak tertarik dengan gosip si A dan si B yang katanya begini dan begitu.

Tak ingin mendatangi bioskop atau karaoke, justru asyik duduk dalam kajian Islam. Tak pernah merayakan ulang tahun, bahkan sekedar mengucapkannya pada teman dekat sekalipun.

Inilah saya, yang mungkin tak biasa di mata anda. Mungkin tak wajar. Tapi saya bahagia seperti ini, menjadi terasing. Karena terasing, tak selalu salah…

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing…” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

-Al amatul faqiirah ilallaah-

Advertisements

Sepotong cinta dari pelataran FK…

because-love-is-you-complete-me

Ketika pertama menginjakkan kaki di kampus ini, tak terbayang akan bertemu dengan mereka, para saudari yang akhirnya menjadi teman seperjuangan saya saat ini. Fakultas kami yang kata orang eksklusif dan terkenal dengan kemegahannya, ternyata memiliki sisi lain yang tak terfikirkan sebelumnya. Ya, di sinilah, telah dirintis dakwah di atas manhaj yang haqq, sejak beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya diberi banyak kemudahan seperti saat ini.

Awal mula kami bertemu adalah sebuah kajian rutin pekanan yang diadakan oleh takmir masjid di fakultas kami. Dari sana, kami mulai mengenal satu sama lain. Sangat bahagia rasanya bertemu dengan saudari semanhaj di fakultas yang sama. Hingga suatu saat, kami diberi amanah untuk ikut melanggengkan dakwah di fakultas kami, dan terbentuklah istilah “takmiroh” yang sebenarnya dari tata bahasa arab kami juga tidak yakin dengan ketepatannya.

Dari sinilah kami memulai kajian rutin khusus muslimah yang diadakan satu bulan sekali, yang karena kemudahan dari Allah, menjadi salah satu kajian muslimah yang selalu ditunggu-tunggu di kota ini. Kajian yang diadakan oleh takmir juga kini bukan hanya sepekan sekali, tapi menjadi dua pekan sekali. Pun sekarang, diadakan pula kajian kesehatan Islam. Mungkin dua tahun belakangan merupakan gencar-gencarnya dakwah di fakultas ini, yang alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah, meskipun tak lepas dari beberapa hambatan.

Bagi saya, inilah salah satu penyegar semangat saya di tengah-tengah rutinitas kegiatan kampus dengan segala keruwetannya. Bagi saya, sekedar bertemu saudari selepas sholat dhuhur di masjid kami, telah melepaskan sedikit kepenatan hari itu. Bagi saya, buka bersama di masjid kami seusai kajian hari Senin dan kamis, menjadi sebuah momen yang selalu ditunggu.

Inilah sedikit cerita kami, tak banyak yang bisa tertulis. Meskipun sebenarnya ribuan kata bisa tertuang, untuk mengungkapkan : Beginilah indahnya, ketika dipertemukan dalam ketaatan…

 

-Al amatul faqiirah ilallaah-

 

 

Masihkah Kau seperti yang Dulu Kukenal ?

ws_good_morning_sun_1024x768

Judul Asli : Sekuntum Surat Buat Kawanku

Syukur dan tahmid terbingkai indah dalam sanjungan hamba untuk Dzat Yang Maha Pemurah. Dia-lah dengan taufik dan hikmah-Nya, yang memilihkan derajat tinggi untuk hamba atau hina berkepanjangan.

Shalawat serta salam terangkai elok dalam doa hamba kepada baginda agung, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alayhi wasallam. Beliaulah dengan penuh kasih dan sayang, yang telah mengarahkan jalan-jalan mudah menuju keabadian surga.

Kawan…

Lama sudah rasanya kita tidak berjumpa. Ada rindu yang mengejar sebenarnya, jika sekian waktu berpisah. Sebab, engkau adalah kawan dekatku. Karena, kita pernah berjalan dan hidup bersahabat.

Namun, itu dahulu kala…

Saat kita masih disatukan oleh majelis ilmu. Saat semangatku dan semangatmu dalam thalabul ‘ilmi bagai banjir bandang yang tak terbendung. Ya, momen-momen indah kita dalam suka duka belajar agama.

Kawan…

Masihkah teringat olehmu? Saat orang tua kita terlihat marahkarena cara berpakaian kita yang berubah. Apalagi ketika kita mulai senang dan gemar menilai segala sesuatu dengan pandangan agama ?

Dan, orang tua kita pun akhirnya memaklumi. Sebab, kita masih berdarah muda. Suka dengan hal-hal baru dan menantang.

Masihkah pula engkau teringat? Saat nama-namakita dipanggil dalam sebuah dewan guru. Karena kita terlambat masuk kelas demi menegakkan shalat dzuhur berjama’ah ?

Dan, akhirnya kita pun menang. Sebab, sebagian guru pun mendukung. Sekali lagi, sebab kita masih muda. Semangat dan sikap idealis kita begitu tinggi.

Kawan…

Masihkah engkau seperti yang dulu ? Bersemangat membara untuk fokus belajar ilmu-ilmu agama ?

Kawan…
Engkau begitu cerdas. Daripada menghafal rumus dan aksioma dalam ilmu matematika, apakah tidak sebaiknya engau menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an?  Aku yakin engkau pasti mampu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.

Engkau sungguh pintar. Daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo dan familianya, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lengkap dengan sanadnya? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal hadits.

Engkau benar-benar pandai. Daripada engkau menghafal vocabulary dan rumus-rumus tense dalam Bahasa Inggris, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal mufrodat Bahasa Arab dan menguasai tata bahasa Arab ? Aku yakin engkau dapat menjadi seorang ahli nahwu dan sharaf.

Engkau memiliki kekuatan mengingat yang tinggi. Daripada engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam lintasan sejarah romawi dan daratan eropa, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ? Aku yakin engkau mampu menjadi seorang ahli tentang sejarah Islam.

Kawan…

Dengan kemampuan, kecerdasan, dan kemauan juga tentu dengan pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla, aku yakin engkau bisa menjadi seorang pembimbing agama.

Namun…

Di mana engkau sekarang?

Kemana engkau pergi ?

Apalagi yang sedang engkau kejar ?

Kawan…

Sedih rasanya saat mendengar tentangmu kini. Cahaya ilmu di wajahmu, telah tertukar dengan gelapnya dosa. Sujud dan rukukmu yang lalu telah berubah menjadi langkah-langkah cela. Doa dan dzikirmu telah berganti nada dan lagu.

Engkau bukan yang dahulu lagi.

Kawan…

Sekuntum surat ini aku rangkaikan untukmu. Moga-moga engkau teringat kembali akan tekad dan cita-citamu untuk menjadi seorang ulama’, penerang umat manusia.

Sungguh, do’aku selalu ada untukmu.

Oleh: Abu Nasim Mukhtar dalam buku Pemuda di Warna-Warni Thalabul ‘Ilmi