Dari Buku Hingga Cokelat

chocolate

#repost tulisan lama dengan perubahan seperlunya

Malam hari tanggal 9 Januari 2012…

Selepas sholat isya’, tiba-tiba saya ingat ada buku perpustakaan yang sudah lama saya pinjam dan masih tergeletak di rak buku karena ternyata belum pernah saya sentuh : “Nelson’s Textbook of Pediatry”. Dengan sedikit tergesa saya membolak-balik buku tebal tersebut, mencari-cari kapan tanggal pengembaliannya. Saya khawatir masa peminjaman buku tersebut sudah berakhir [dan saya harus membayar denda 1000 rupiah per hari]. Setelah menelusuri tanggal-tanggal di sana, saya menemukannya. Walhamdulillah…tertulis 10 Januari 2012. Ada sedikit perasaan lega. Itu berarti saya masih memiliki kesempatan untuk mengembalikan buku tersebut  keesokan harinya tanpa harus membayar denda. Dan, esok harinya, saya membawa buku tersebut ke perpustakaan, bukan untuk dikembalikan, namun untuk perpanjangan karena saya belum membacanya..[sama sekali]  ^^

Pelajaran berharga :

(1)    Subhanallah…betapa Allah telah mengatur rizqi hamba-hamba-Nya sehingga 1000 rupiah pun tetap dijaga oleh Allah apabila itu masih menjadi rizqi saya. Betapa semuanya telah diatur, sehingga saya mengingat buku tersebut tepat sehari sebelum saya terlambat mengembalikannya.

(2)    Saya harus lebih rajin lagi membaca buku. Buku itu dipinjam untuk dibaca. Bukan untuk hiasan di rak buku hingga akhirnya dilupakan.

Dari kejadian tersebut, saya jadi ingat cerita seorang Ustadz pada kajian hari Ahad sebelumnya. Cerita ini juga berkaitan dengan rizqi seorang hamba yang telah ditetapkan oleh Allah. Saat itu Al Ustadz berkata yang kurang lebih intinya, setiap manusia telah ditetapkan rizqinya oleh Allah. Bahkan makanan terakhir yang dia makan sebelum dia meninggal pun telah ditetapkan.

Kemudian beliau menceritakan kisah seorang kakek yang sakit berat dan dirawat di ICU dengan berbagai selang yang dipasang di tubuhnya. Kakek tersebut sudah berhari-hari tidak sadarkan diri. Lalu suatu saat cucunya datang menjenguk dengan membawa sebungkus coklat di tangannya. Saat itu, di ruangan tersebut hanya ada dia dan kakeknya. Entah mengapa, si cucu berinisiatif untuk mencuil sedikit coklat kemudian disuapkan ke kakeknya. Ternyata sang kakek [yang sudah tidak sadarkan diri] dapat mengunyah coklat tersebut! Lalu si cucu mencuil lagi dan memberikan suapan kedua untuk kakeknya. Dan sang kakek kembali mengunyahnya. Demikian, sehingga qodarullah siang harinya kakek tersebut meninggal. Dan coklat tersebut adalah makanan terakhir yang dia makan…

Al Ustadz menjelaskan dari cerita tersebut bahwa rizqi seseorang, jika sudah ditetapkan, tidak akan tertukar dengan orang lain. Bahkan dua cuil coklat pun, apabila sudah ditetapkan menjadi rizqi sang kakek pada cerita tersebut, tidak akan tertukar sehingga menjadi rizqi cucunya ataupun orang lain.

Subhanallah…dari dua kejadian kecil tadi, masihkah kita tidak dapat mengambil hikmah, bahwa rizqi kita telah ditetapkan oleh Allah? Bahwa tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi ini kecuali Allah telah menetapkan rizqinya?

Allah ta’ala berfirman, yang artinya:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). ”

(QS Huud : 6)

Wallahu ta’ala a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s