Bolehkah Merayakan Ulang Tahun dalam Islam?

milad1

Ulang tahun. Ya, kata-kata itu pasti sudah tidak asing di telinga kita. Berbagai macam kebiasaan yang dilakukan untuk merayakan ulang tahun. Meniup lilin yang diletakkan di atas kue, memotong kue, memberi kado atau hanya sekedar mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”. Tapi, tahukah kalian bahwa hal tersebut sangat jauh sekali dari kebiasaan nabi kita tercinta, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Perayaan yang Ada dalam Islam

Dalam agama Islam hanya terdapat tiga hari yang dirayakan berulang atau yang disebut ‘id. Tiga hari tersebut adalah ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, dan Hari Jumat.

Setiap kaum memiliki ‘Id, dan hari ini (‘Idul Fitri) adalah ‘Id kita (kaum Muslimin).” (HR. Bukhari-Muslim)

Jika dalam Islam hanya terdapat 3 ‘id, maka ‘id yang lain adalah milik kaum lain. Coba ingat-ingat hadits ini.

“Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut.(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hukum minimal yang terkandung dalam hadits ini adalah haramnya tasyabbuh (menyerupai) kepada mereka (orang-orang kafir), walaupun zhahir (nyata) hadits menunjukkan kafirnya orang yang tasyabbuh kepada mereka”. (Lihat Al-Iqtidha` hlm. 83)

Sebagian besar dari kalian tentu sudah tahu jika mengucapkan selamat natal, selamat waisak, dan semacamnya tidak boleh. Nah, mengucapkan selamat ulang tahun pun demikian. Kenapa kok dilarang? Mari kita simak sejarah hitam dari ulang tahun.

Awal Mula Perayaan Ulang Tahun

Masih belum percayakah bahwa ulang tahun merupakan tradisi orang-orang non muslim? Coba simak tulisan berikut.

Banyak kisah yang menunjukkan bahwa perayaan ulang tahun itu asalnya bukan dari Islam. Contohnya kisah Fir’aun. Fir’aun merayakan hari kelahirannya dengan mengadakan pesta. Selain itu ulang tahun juga dipandang oleh orang Ibrani sebagai ibadah.

”Orang-orang Ibrani yang belakangan memandang perayaan hari ulang tahun sebagai bagian dari ibadah yang bersifat berhala, suatu pandangan yang sangat ditegaskan oleh pandangan mereka terhadap perayaan-perayaan umum yang berkaitan dengan hari itu.” (The Imperial Bible-Dictionary (London, 1874), diedit oleh Patrick Fairbairn, Jil. I, hlm. 225)

Masih ada lagi yang tidak kalah buruk dari perayaan ulang tahun adalah hal-hal yang sarat dengan kesyirikan.

”Orang-orang Yunani percaya bahwa setiap orang mempunyai roh pelindung atau daemon yang hadir pada saat kelahirannya dan menjaga dia selama hidupnya. Roh ini mempunyai hubungan mistik dengan ilah yang hari kelahirannya sama dengan orang yang merayakan hari ulang tahun itu. Orang-orang Romawi juga menganut gagasan ini. . . . Gagasan ini dibawa serta dalam kepercayaan dan tercermin dalam malaikat pelindung, peri yang menjadi ibu wali (godmother) dan santo pelindung. . . . Kebiasaan menyalakan lilin pada kue dimulai oleh orang-orang Yunani. . . . Kue-kue madu yang bulat seperti bulan dan diterangi dengan lilin-lilin kecil ditaruh di altar kuil [Artemis]. . . . Lilin ulang tahun, dalam kepercayaan rakyat, mengandung kegaiban istimewa yang dapat mengabulkan permohonan. . . . Lilin-lilin kecil yang dinyalakan dan api persembahan mempunyai makna mistik yang istimewa sejak manusia pertama kali mendirikan altar-altar untuk ilahnya. Jadi, lilin ulang tahun merupakan suatu penghormatan kepada anak yang berulang tahun dan mendatangkan keberuntungan. . . . Ucapan selamat ulang tahun dan harapan semoga bahagia tidak terpisahkan dari hari perayaan ini. . . . Mula-mula gagasan ini berasal dari ilmu gaib. . . . Ucapan selamat ulang tahun mempunyai kuasa untuk kebaikan atau malapetaka karena seseorang lebih dekat kepada dunia roh pada hari ini.”—The Lore of Birthdays (New York, 1952), Ralph dan Adelin Linton, hlm. 8, 18-20.

Menanggapi Ulang Tahun Menurut Islam

Jika ulang tahun bukan berasal dari agama Islam, lalu bagaimana sikap yang harus dilakukan ketika hari ulang tahun datang?

  1. Tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu.
  2. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, dan usia yang panjang. Ingat! Hal tersebut dilakukan setiap saat bukan setiap tahun.
  3. Bersyukur tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus.
  4. Refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita. Kegiatan tersebut seharusnya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.

(diakses dari muslim.or.id)

_______________________

Sudah tahu kan sekarang, perayaan ulang tahun itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Yuk, mulai mengamalkan ilmu baru yang kita dapat ini. Memang susah untuk memulai meninggalkan sesuatu yang sudah dianggap lazim di kalangan masyarakat. Kami menjadi teringat sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing. (HR Muslim)

Semoga Allah memudahkan kita agar selalu istiqamah di jalan-Nya. Aamiin..

***

Disusun oleh Takmiroh Ibnu Sina FK UGM

Referensi

http://al-atsariyyah.com/hukum-mengucapkan-selamat-ulang-tahun.html. 31 Oktober 2014. 19:29

http://muslim.or.id/manhaj/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html. 31 Oktober 2014. 19:31

http://wol.jw.sorg/en/wol/d/r25/lp-in/1101989214. 31 Oktober 2014. 19:52

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s