Buku itu Tak Terluka

pinjam buku

Saya hobi sekali bermain-main dengan buku. Mulai dari membeli, mengoleksi, dan yang paling penting membacanya. Entah itu over atau bagaimana, tetapi yang jelas saya paling tidak tega melihat buku tersakiti. Tersakiti karena terlipat, tidak disampul, halaman lepas dan tidak segera dirapikan, ujung-ujung halaman yang tidak rapi, dan banyak hal menyakitkan lainnya.
Hingga saya sering tak rela jika ada seorang yang meminjam buku apalagi jika saya mendapatinya buku itu tersiksa.
Pelit. Memang begitulah kenyataannya.
Saya akan memasang wajah sinis ketika ada yang hendak meminjam buku saya sambil berkata,
“Silakan dipinjam, asal jangan terlipat, jangan basah, jangan sampai ada yang rusak sedikit pun, dan segera kembalikan”. Begitulah saya.
Namun suatu saat, ada suatu momen yang mengubah itu semua. Sebuah pelajaran berharga yang sungguh patut saya syukuri.
Pada hari itu saya singgah ke rumah seorang akhwat (saya panggil dia ‘mbak’). Takjub banget, melihat rak buku yang cukup banyak, dan isinya full, buku semua. Saya terkagum-kagum dengan itu semua. Dan sepertinya mbak itu tahu kekaguman saya. Pada akhirnya berkatalah dia,
“Dek, kalo mau pinjam buku silakan lho.., mau dibaca-baca monggo..”, langsung saya menimpali.
“Boleh dibawa pulang Mbak?”
Mbak itu menjawab, “Iya Dek, silakan… tidak apa-apa..”
Lalu saya nyambung, “Berapa lama Mbak jangka waktu peminjamannya kira-kira?” Mbak menjawab, “Dibaca aja dulu, kalau sudah selesai silakan dikembalikan…”.

GUBRAK! Jujur saya yang ekstrim banget pelitnya masalah pinjam meminjam buku shock berat dengan jawaban itu.
“Bener Mbak? Mbak gak takut bukunya ilang gitu kalau saya pinjam terlalu lama?”
dengan wajah ramahnya Mbak menjawab
“Sudah gak apa Dek, sudah biasa kok, biasanya kalau ada yang pinjam juga seperti itu, ya asal berusaha untuk menjaga biar tidak hilang, nanti kalau sudah, dikembalikan lagi…”
Wah, antara senang gembira, heran, kagum, takjub, gak percaya, dan merasa aneh. Akhirnya saya beranikan diri untuk mengutarakan kepada mbak itu,
“Mbak.. kok bisa baik banget gitu? Sampai segitunya meminjamkan buku?”
Siapa yang tahu jawaban mbak itu?
Hmmm, mbak itu menjawab
“Dek, dulu saya itu pelit banget masalah meminjamkan buku, tapi, pada akhirnya, ketika buku semakin banyak, saya makin sadar. Untuk apa buku yang sebanyak ini jika yang menikmati hanya saya sendiri? Ilmu yang harusnya bisa diperoleh orang lain, hanya saya tata rapi di sini. Buat apa coba?”
Hemmm.. saya khusyuk mendengarkan.
“Jadi, intinya, saya juga ingin orang lain bisa menikmati ilmu dari buku-buku ini. Harapannya sederhana sih, semoga bukunya bisa bermanfaat bagi orang lain. Seneng lho melihat orang yang berubah jadi baik, mungkin setelah membaca salah satu buku yang kita pinjamkan. Wah,.. kalo sudah seperti itu.. berharap saja, semoga mendapat pahala mengalir Dek…”, ucap mbaknya dengan wajah semangatnya.

Protes saya mulai muncul,
“Iya sih Mbak.. tapi biasanya itu, orang yang pinjam buku pada suka melipat kertasnya, kusut ujung-ujungnya, ada yang malah mengembalikannya dalam keadaan rusak atau malah hilang, wah sebel deh pokonya..”
“Dek, jangan dilihat kerusakan bukunya. Apa sih yang lebih besar dari pahala ilmu yang bermanfaat yang terus mengalir? Itu bisa dibawa sampai mati loh…Buku kusut, terlipat, itu bukan apa-apa. Justru kita harus senang, itu tanda buku itu bermanfaat untuk orang lain.”

Glekk.
Saya tak berani berkomentar. Mengangguk-angguk sudah cukup bagi saya untuk mengisyaratkan bahwa saya paham.
Oke, sejak saat itu. Berubahlah saya.
Begitulah ketika seorang memilih untuk meminjamkan buku. Buku itu statis. Diam dan tak akan pergi jika memang tidak dijemput. Maka dia tak akan jadi bermanfaat bagi orang lain ketika diam di raknya. Dan memang kusutnya buku tak akan sebanding dengan pahala yang tak terbayangkan oleh kita. Boleh jadi, lantaran kusutnya buku itu, ketika kita duduk-duduk, santai, tidur-tiduran, atau bahkan saat kita telah meninggal, tanpa kita sadari aliran pahala tetap ada. Sebagaimana yang dijanjikan Allah lewat sabda rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Mulai sekarang, kalahkan rasa pelit itu. Relakan beberapa koleksi untuk sekadar dibaca-baca saudarimu. Karena sebenarnya kusutnya buku tak membuatnya terluka selagi ia berbuah pahala.
Masih mau pelit lagi?
Rugi tau!

Ditulis oleh Takmiroh Masjid Ibnu Sina FK UGM (7/11/2014)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s