Duh, di Balik Cadarnya, Ternyata Mereka…

-Catatan kecil, perjalanan hidayah (bagian 1)-

pearl-in-shell_square

Maaf saudariku yang menutup wajahnya. Maaf saudariku yang berpakaian gelap dan menutupi tubuhnya dengan kain lebar. Pertama kali saya melihat orang berpenampilan seperti Anda, spontan yang saya pikirkan adalah “gak modis”, “pasti orangnya gak kenal gaya”, “pasti orangnya jarang cuci baju nih, bajunya warna gelap, jadi kotor pun gak ketahuan”. Ya, jujur, seperti itulah saya.

Risih sekali melihatnya, belum lagi gamis yang panjang, terinjak-injak oleh alas kaki sehingga kumal berdebu. Tangan ini rasanya ingin sekali mengibas-ngibaskan bagian yang kotor itu sampai bersih dan debunya hilang. Duh, risih mbak rasanya.

Belum cukup dengan itu saja saya dibuat risih, pakaian yang begitu lebarnya, kadang kusut tidak disetrika. Ingin sekali rasanya meminjamkan bajuku, dan menggantikannya sementara lalu kusetrika bajunya. Duh, risih mbak rasanya.

Dan satu lagi tak kalah pusing saya dibuatnya ketika berhadapan dengannya. Ketika musim hujan tiba, sungguh wajar jika banyak pakaian tidak kering sempurna. Iya, bau. Tapi, ini kain yang begitu lebarnya, yang dipakai mbak (maaf) ‘bercadar’, baunya rata dari atas sampai bawah, sama semua, sama-sama bau. Maaf-maaf, memang iya parfum dilarang, meskipun saya waktu itu masih berpakaian gaul, saya juga tahu kok kalau wanita dilarang pakai parfum, tapi ya maaf-maaf mbak, setidaknya bau itu dihilangkan dulu. Tak harus menyemprotkan parfum, dengan pengharum sewajarnya ketika disetrika sudah cukup menyamarkan bau akibat penjemuran yang keringnya tidak tuntas. Bau seperti itu, duh, risih mbak rasanya.

Ada juga cerita lain lagi, yang ini membuat saya lebih gregetan dari sebelum-sebelumnya. Lagi-lagi bertemu dengan mbak ‘bercadar’. Kali ini mbak yang satu ini lebih nyentrik pakaiannya. Saya sudah sedikit lupa bagaimana rinciannya, tapi yang jelas kurang lebih dia berpakaian warna hijau tua, berjilbab hitam, dan cadarnya coklat tua. Serius, saya makin risih melihatnya, tampak seperti pelangi gelap atau mungkin tumpukan kain yang asal tumpuk, karena memang warnanya sama sekali gak matching. Duh, risih mbak rasanya.

Jika memang Anda tidak mempedulikan penampilan mbak, tapi, cobalah mengerti, ketika Anda keluar rumah mbak, bukan Anda yang melihat diri Anda sendiri, tapi orang lain. Setidaknya, jangan buat orang lain (termasuk saya) menjadi risih..

Itu dia kesan yang ada tentang Anda, mbak bercadar. Saya enggan berdekatan, karena saya ‘risih’ itu saja. Dan itu berakibat jangka panjang sehingga saya berpikir yang tidak-tidak tentang Anda. “Duh, di balik cadarnya, pasti mereka jarang cuci muka”. “Duh, di balik cadarnya pasti wajah mereka cupu banget..”, “Duh, di balik pakaian mereka itu keliatan banget kalo mereka itu tidak kenal mode”. Duh.. Gitu deh risihnya.

Namun sungguh, saya sesungguhnya patut untuk banyak-banyak bersyukur. Berangkat dari kebencian dan kerisihan yang begitu mendalam terhadap orang bercadar, membuat saya melek mata. Karena kenyataan lain, yang berkebalikan, ada di hadapan saya. Saat itu, (memang sudah takdir) saya mendapati kos yang akan saya huni di Jogja adalah tempatnya wanita-wanita bercadar. Wah, wah.. Tidak kebayang bagaimana jadinya.

Ketika berkenalan, jleb. Rasanya diri ini begitu bodoh telah mencela-cela mereka, bahkan mungkin saja, justru sayalah yang salah, mungkin pikiran inilah yang terlalu sempit dalam memandang, dan mungkin hati inilah yang salah menilai.

Iya, saat itu, saya melihat sesuatu yang berbeda. Seorang wanita bercadar yang berstatus mahasiswa. Saya percaya dia mahasiswi, tanpa dia harus menjelaskan panjang lebar. Pakaiannya rapi, warna maching, disetrika, dan tidak bau, setidaknya itu menggambarkan keterdidikannya sebagai mahasiswi. Lebih dari itu, ketika dia melepas penutup wajahnya, saya jadi tahu, dibalik penampilannya yang sangar itu, ternyata dia bisa senyum, dia ramah, dan wajahnya bersahabat.

Namun itu saja belum cukup bagi saya menghapuskan kedalaman rasa risih di hati saya. Mungkin iya sedikit berkurang, tapi bukan berarti sama sekali hilang. Pikiran lain yang menghinggapi saya adalah ‘ah, pasti mereka adalah orang monoton yang tak mengenal mode, buktinya, bajunya modelnya itu-itu saja..’. Nah, pikiran saya yang satu ini, terjawab ketika saya diajak oleh salah seorang dari mereka (mbak bercadar) ke sebuah toko yang menjual pakaian seperti yang mereka kenakan. Kagetlah saya, ‘Wah, ternyata, keren juga model gamisnya, ternyata ada yang bunga-bunga, ada yang kombinasi batik juga, ada model-model lain juga’. Menakjubkan bukan? Setiap anggapan negatif dari diri saya, alhamdulillah, selalu terjawab.

Sepertinya, belum cukup bagi saya untuk menanggalkan kerisihan saya pada Anda, mbak bercadar. Masih ada dalam pikiran saya ‘Mereka pasti orangnya kurang kreatif dan kurang berkarya, buktinya, mereka selalu menutup diri dan tidak pernah menunjukkan aksinya’. Kali ini saya rupanya telah salah besar, bagaimana tidak, anggapan saya yang seperti itu, ternyata 100% salah. Web yang saya kenal dari dulu muslimah.or.id, siapa penulisnya? Siapa yang mengembangkan web itu? Orang bercardar!! Kajian besar, yang mengundang ustadzah itu siapa yang menyiapkan dari awal hingga akhir? Para panitia, dan semua bercadar. Poster-poster nasihat yang girly itu buatan siapa? Orang bercadar.

Dari sinilah, alhamdulillah, luntur sudah kerisihan saya tentang Anda wahai wanita bercadar. Duh, betapa salahnya saya menilai Anda dulu.

Duh, di balik cadarnya, ternyata mereka baik, ramah, dan ber sahabat…

Duh, di balik cadarnya, ternyata mereka modis juga…

Duh, di balik cadarnya, ternyata mereka beraksi dan berkarya…

Duh, betapa salahnya dulu saya menilai Anda seperti itu

Lantas, pertanyaan saya selanjutnya, ‘Sebenarnya, Anda ini orang hebat lho, mbak… Anda baik, Anda ramah, Anda kreatif, dan Anda berkarya’, lalu mengapa Anda harus menutup diri? Jawabannya akan dilanjutkan pada catatan berikutnya.

 -Catatan kecil, perjalanan hidayah (bagian 1)-

Catatan kecil lain untuk saudariku:

Cobalah berpakaian yang (setidaknya) tidak membuat orang takut dan risih. Berpakaianlah syar’i yang rapi (disetrika), yang matching (gunakan warna yang sesuai), dan jika bau karena belum kering sempurna, cobalah cek dulu dan berikan pewangi secukupnya untuk menghilangkan bau.

Pakaian yang tampak rapi tak harus mahal ukhti, jika memang tak menginginkan menyetrika, jemurlah pakaian dengan baik, dengan digantung, insya Allah hasilnya lumayan, tidak kusut dan tetap rapi. Gunakan warna yang senada, setidaknya warna cadar dan jilbabnya sama, agar tampak lebih indah dipandang.

Berhias memang hanya dihadapan suami ya ukhti, tapi cobalah kita mengerti pandangan orang awam (seperti penulis) terhadap kita. Kadang mereka merasa butuh nasihat kita, ingin dekat dengan kita, tapi terkadang mereka menjadi enggan.

Semoga Allah memudahkan penulis dan kita semua untuk memperbaiki hijab ini.

Advertisements

2 thoughts on “Duh, di Balik Cadarnya, Ternyata Mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s