kini kutahu apa yang hendak kugapai

1545915_725230850822343_48861867_n

Judul Asli : Cara Berdakwah

Kebencian terhadap hidup dan rasa takut kepada Allah

telah mengeluarkan diriku darinya

Jiwaku terjual dengan harta yang tak pantas baginya

Sesungguhnya aku menimbang yang akan kekal untuk

dapat mengimbangi kehidupan

Segala yang tidak kekal, demi Allah, tidak akan kami pertimbangkan

 

Segala puji bagi Allah yang mengumpulkan kita di tempat ini. Kita tidak menyembah berhala, tidak pernah berthawaf keliling kuburan dan tidak pernah menyucikan pohon. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di atas tauhid,beribadah hanya kepada Allah semata,tidak ada tandingan dan sekutu bagi-Nya.

Nun jauh di sana wahai saudara yang aku cintai, ada batu yang disembah, di samping juga Allah, ada kuburan yang dikelilingi, orang-orang mati dijadikan perantara ibadah. Di sana, masih ada kejahilan yang menancapkan kuku-kukunya demikian dalam. Dimana kewajibanmu wahai kaum muslimin dalam menyampaikan dakwah? Kenapa kalian ketinggalan dari kafilah itu? Siapa yang akan menanggung beban dakwah ini selain kalian dan orang-orang semisal kalian?

Keheningan menyelimuti kami. Sementara seorang Syaikh berdiri bagaikan tombak usai shalat Tarawih utnuk berbicara, beberapa kata yang mengharumkan tempat itu, menyentuh hati dan menggugah perasaan serta mengasah jiwa.

Aku menyentuh dompetku. Tampaknya iamengajak kami untuk beramal.

Ia berhenti sejenak, lalu membaca istirja’, (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) karena ternyata para pemuda dari umat ini lalai.” Seolah-olah ia berbicara kepadamu.

Aku datang kemari bukan untuk mengumpulkan harta. Aku datang kemari untuk menganjurkan dan mengingatkan Anda semua akan kewajiban untuk berdakwah di jalan Allah. Para ulama salaf dahulu mengarungi padang pasir dalam jarak yang jauh sekali demi menyampaikan dakwah dan membenarkan keyakinan mereka.

Sekarang? Segala sarana dakwah mudah, apa yang telah kita persembahkan? Saya tidak mengajakmu –wahai saudara- agar engkau mengorbankan waktumu seluruhnya.

Tidak, namun sisa waktumu. Sisa waktumu,gunakanlah untuk berdakwah. Mereka dahulu menyerahkan seluruh waktu mereka untuk berdakwah dan sisanya untuk mencari dunia.

Meskipun jumlah orang yang shalat banyak, dan semuanya terdiam, tetapi aku merasa seolah-olah ia hanya berbicara kepadaku saja, menguliti kesalahan-kesalahanku.

Aku tinggalkan tas, dan kukeluarkan tanganku dari kantong. Aku mengulang-ulang,”Ini adalah dakwah tauhid. Masih membutuhkan banyak orang. Karena kondisi kaum muslimin amat memelaskan sekali!”

Aku keluar masjid dan mataku mencari-cari dimana Syaikh itu. Ketika aku menyalaminya, ucapanku dengan cepat sudah mendahuluiku,” Dimana jalan itu? Aku ingin pergi berdakwah, meskipun sebagai seorang dokter”, aku memutuskan itu tanpa ragu-ragu lagi. Berjalan di jalan dakwah mengajak kepada ajaran Allah.

Aku menggagalkan kepergianku ke Kanada untuk mengambil program doktorku, dan kuputuskan untuk menundanya selama enam bulan. Aku mulai berlari di lembah-lembah dakwah, mendaki gunung, dan menuruni jurang.

Aku menyaksikan penyembahan kuburan, thawaf mengelilingi kuburan-kuburan itu, bahkan juga menyembelih hewan di altarnya. Aku melihat sendiri adanya banyak perbuatan bid’ah dan tahayul. Aku juga melihat para pemuda Nasrani di bawah terik matahari dan di tengah wabah penyakit yang merajalela. Mereka mengerahkan segala sesuatu untuk melakukan kristenisasi!

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan aku bagaikan gerakan yang tak pernah berhenti, semangat yang tak pernah kendur.

Setelah habis masanya, aku beristikharah meminta pilihan kepada Allah, kemana aku akan mengarah? Dan kemana aku akan berjalan?

Duduk dengan tenang, dan berpikir sedalam-dalamnya. Bagaimana nanti, bila aku telah menyelesaikan studiku, dan keadaan masih sama seperti yang dulu? Aku bisa mencapai gelar doctor, tetapi apalagi sesudah itu?

Aku teringat dengan panggilan Allah,

 

Aku ingin bersegera menuju surga yang hamparannya seluas langit dan bumi. Setiap hari ada doa yang naik ke ufuk langit.

Dimana iman tertanam ke dalam hati, di situlah jalan dan lorong akan dipenuhi oleh cahaya. Sesungguhnya itu adalah perjalanan dakwah. Itu adalah perlombaan memperoleh kebaikan. Menyampaikan risalah dan meniti jalan hidup beliau Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Aku mengeluh, hari-hari pemuda Islam itu hilang begitu saja, waktu-waktu mereka terbuang sia-sia.

Kaum muslimin betul-betul berhajat untuk diberi ilmu dan pengajaran. Itu adalah ajakan untuk berjalan di atas jalan dakwah.

Orang yang bodoh diberitahu. Orang yang lalai diingatkan. Sehingga ibadah kepada Allah hanya dilakukan (sesuai) dengan syariatNya. Pada masa awal umat ini, mereka berlomba-lomba dalam kebajikan. Bagaimana kita sekarang?

 

Dari buku karangan Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim berjudul Akhirnya Mereka Bertaubat, penerbi Darul Haq,  penerjemah Abu Umar Basyir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s