Cowok itu…

Cowok itu.. tongkrongannya masjid atau mushala bukannya mall atau party-party

Cowok itu.. duduk dari pengajian satu ke pengajian lainnya bukannya pacaran di cafe remang-remang

Cowok itu.. hobinya baca Qur’an bukannya baca ramalan bintang

Cowok itu.. doyannya ngapalin Qur’an bukannya lirik lagu mellow yang isinya ratapan dan tangisan

Cowok itu.. di playlistnya penuh sama muratal Qur’an atau rekaman kajian bukannya lagu-lagu yang bikin kepala manggut-manggut, geleng-geleng  plus bejogetan

Cowok itu.. berilmu dulu baru beramal bukan yang gayanya selangit dengan ilmu pas-pasan

Cowok itu.. ilmunya gak dipendem sendiri di buku catatan tapi disebarkan biar ummat bisa tau kebenaran

Cowok itu.. gak ragu amar ma’ruf nahi munkar bukannya nunggu lancar plus khatam bahasa Arab dan kitab2 dulu baru didakwahkan

Cowok itu.. berani menerima kebenaran bukan sibuk mencari pembenaran

Cowok itu.. sigap dan tanggap saat dibutuhkan bukan diem aja banyak alasan atau cari aman

Cowok itu.. anti update status galau bukannya tiap hari menebar nestapa duka lara minta dikasihani

Cowok itu.. isi status atau tweetnya menebar hikmah dan semangat bukannya mencaci, memaki ngajakin ribut

Cowok itu.. mengadukan masalahnya pada Alloh Sang Pemilik kehidupan bukan mengadu di fesbuk, twitter, WA atau BBM gan

Cowok itu.. gak malu nangis akan dosa-dosanya di hadapan Alloh bukannya malu-maluin nangis gara-gara ditolak cewek gebetannya

Cowok itu.. gak bangga dengan banyaknya pujian bukannya malah emosi cuman gara-gara satu celaan

Cowok itu.. punya prinsip gan bukannya jadi follower pemikiran dan gaya hidup kebarat-baratan tanpa pegangan

Cowok  itu.. kalo liat cewek cantik langsung nunduk/ mlengos buat jaga pandangan bukannya dipelototin gak karuan

Cowok itu.. gak demen obral janji dan sumpah serapah sama pasangan bukan yang enteng bilang “Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang”

Cowok itu.. gak berani ngajak jalan sebelum ijab qabul terikrarkan bukannya malah berduaaan pegang-pegangan sebelum halalan thayyiban

Cowok itu.. berani dateng ke rumah buat ngelamar bukannya malem mingguan bawa lari anak orang padahal belum ada ikatan pernikahan

Cowok itu.. dandannya kalo ke masjid mau menghadap Tuhan bukan buat tebar pesona cari mangsa buat hang out-an

Cowok itu.. bangun malem buat tahajjudan bukan yang bangun kesiangan plus telat subuhan

Cowok itu.. sibuk dengan aib dan dosanya bukan cari-cari kejelekan orang (eh, ada ya? kirain cewek doang..oh no)

Cowok itu.. berani keluar dari zona nyaman, berani gaul sama orang awam, gak cuma “jago kandang”

Cowok itu.. nasihatin orang dengan hikmah, kesantunan dan kelembutan akhlak bukan emosi dan ngrasa paling bener sendiri

Cowok itu.. gak takut dibilang kampungan gara-gara celana cingkrang

Cowok itu.. gak takut dibilang berantakan gara-gara jenggotan

Cowok itu.. gak takut dibilang kelainan gara-gara menundukkan pandangan sama perempuan

Cowok itu.. gak takut dibilang banci gara-gara nolak rokok gratisan

Cowok itu.. gak takut dibilang ekstrim gara-gara gak salaman sama cewek bukan mahram

Cowok itu.. gak nunggu hidup mapan buat ngelamar wanita pilihan…yang penting mau usaha gan… #eaaaa

For you MEN,  these are what we call a MAN, is that You?

For you girls, what will you choose? Anyway, It’s all about choice..

Your choice,  your life..

Ini ceritaku, apa ceritamu?

Semoga Alloh senantiasa meluruskan niat kami yang dhaif ini dalam menulis

Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan,,semoga bermanfaat

(UK, 2011)

park-bench-autumn

THE MIRACLE OF RAMADHAN

ramadhan_Mabrook_wallpaper

Anak-anak bersuka cita berbondong-bondong menuju masjid demi menunggu adzan berkumandang,

masjid-masjid penuh dengan jama’ah yang berlomba-lomba mencari keberkahan,

tak lupa pedagang panen rezeki di saat menjelang berbuka tiba.

Itu adalah sebagian kecil fenomena-fenomena ajaib yang tak biasa kita temui di hari-hari biasa. Lantas, mengapa ini semua menjadi hal yang luar biasa? Ramadhan. Satu kata yang menimbulkan sejuta tanya, apa yang istimewa darinya, satu kata yang membuat wajah yang muram menjadi merona tak terelakkan, satu kata yang ditunggu kedatangannya dan ditangisi kepergiannya, satu kata yang menjawab semuanya.

Sungguh merupakan anugrah yang tiada terkira bagi seorang hamba yang beriman ketika ia diberi nikmat untuk menemui bulan Ramadhan, melebihi kebahagiaan seorang anak yang mendapatkan nilai A di mata pelajaran matematika, melebihi kebahagiaan seorang tahanan yang bebas setelah mendekam hingga puluhan tahun. Beginilah kebahagiaan yang idealnya dirasakan oleh kaum muslimin. Begitu Pemurah dan Penyayangnya Rabb kita Alloh subhanahu wa ta’ala hingga Dia menghadiahkan bagi kita sebuah bulan yang penuh kejutan ini. Alloh membuka pintu selebar-lebarnya bagi semua hamba yang ingin bertaubat, mengubur semua kesalahan yang telah lalu, bertekad untuk tidak mengulanginya dan menutupi dengan beramal sholeh sebanyak-banyaknya meskipun kesalahannya sebanyak butir pasir di Gurun Sahara atau sebesar angin puting beliung yang melanda UGM. Ya, bulan Ramadhan satu dengan bulan Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, layaknya dua waktu sholat, hari Jumat satu dengan berikutnya. Betapa Alloh ingin agar kita tidak menyesal nantinya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Anak-anak TK pun mengetahui bahwa pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu agar tak seenaknya mengompori manusia agar melakukan kemaksiatan. Kejutan apa lagi ini? Padahal iblis telah mengikrarkan bahwa dia dan sekutunya akan terus mengajak manusia menuju kesesatan dan pengkhianatan terhadap Tuhan hingga hari kiamat kelak. Tapi tidak demikian, lagi-lagi Alloh dengan kuasa-Nya memberikan kesempatan bagi kita untuk beramal sebanyak dan seleluasa mungkin tanpa susah-susah melawan godaan syaithan yang sudah nyata-nyata terkutuk tapi masih saja diikuti. Telah kita ketahui bahwa tiap detik di bulan Ramadhan adalah kebaikan. Maka ketika tiap detik yang kita lalui kita isi dengan hal-hal yang membuat Alloh ridho dengan kita, siap-siap saja panen pahala di akhirat kelak. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan, Siapa yang tidak mau mendapatkannya. Satu huruf alif dibalas Alloh dengan sepuluh pahala, lalu bagaimana jika setiap bertemu dengan saudara seiman kita mengucapkan salam ditambah dengan senyuman lepas dan tatapan yang tulus? Subhanalloh tiap detil amal yang kita lakukan tidak akan luput dari pengawasannya. Akan lebih baik jika kita membaca Al-Quran disertai terjemahannya ketika di bulan-bulan selainnya. Namun, di Ramadhan kita diperbolehkan untuk sebanyak mungkin meraup pahala cukup dengan membacanya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Sholat. Sekarang saatnya mendirikan sholat, bukan hanya sekedar menjalankannya. Selain sholat wajib lima waktu, Alloh menyediakan begitu banyak sholat sunnah yang masing-masing mempunyai keutamaan dan nilai sendiri-sendiri. Sholat Qiyamul lail, rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, hajat, istikharah, istisqa’, witir dan yang khusus disediakan di bulan mulia ini, shalat Tarawih. Dengan balasan pahala yang begitu banyaknya, bukankah kita malu ketika masih mencari masjid yang bacaan suratnya pendek, atau ceramah yang singkat dan padat? Ada apa dengan akal dan hati kita, apakah setan-setan yang terbelenggu masih belum cukup bagi kita untuk berbuat kebaikan? Atau memang akal dan hati kita telah terinstall software yang terus menyuruh kita berbuat yang tidak baik atau amal yang biasa-biasa saja. Waktunya untuk merenungkan dan berkaca pada diri sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah orang yang paling dermawan, beliau bersedekah bagaikan angin. Angin yang terus berhembus, lembut dan menenangkan. Cepat dan tidak mengharap imbalan. Sudahkah kita bersikap demikian? Lembut, tak jarang seseorang memberi sedekah dengan bumbu-bumbu penghambar seperti ejekan atau sekedar tatapan jijik. Menenangkan, tak jarang pula seseorang sudah menolak masih ditambah umpatan atau mungkin perlakuan fisik yang kasar. Cepat, atau bersegera, kadang-kadang seseorang baru terketuk hatinya setelah terjadi bencana alam yang merenggut sekian nyawa, dimana kita ketika seorang anak meminta sesuap nasi? Terakhir, tanpa pamrih, hmm sungguh ironis, belakangan kita lihat calon orang terkenal mengambil lagi apa yang telah ia berikan untuk masjid hanya karena dia batal menjadi calon orang terkenal. Halo? Kalau semua umat muslim masih demikian sepak terjangnya apalagi di bulan puasa, mau jadi apa negara yang kita bangga-banggakan ini? Yang katanya mayoritas umat muslim ada di dalamnya. Sayang sekali jika Ramadhan dibiarkan tanpa sedekah setiap hari dan tanpa sedekah yang dari hati. Perlukah digambarkan seperti apa balasan orang yang sedekah? Sungguh tidak akan pernah rugi orang yang bersedekah, sungguh sebaik-baik perniagaan adalah perniagaan dengan Alloh, dimana ketika kita memberi, Alloh akan membalas dengan balasan yang lebih baik. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? Lagi-lagi saatnya kita untuk bercermin.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang pas untuk menyambung lagi tali silaturrahim, mengumpulkan lagi puing-puing kekerabatan yang mungkin pernah tercecer. Bukankah menyenangkan bila bisa berkumpul lagi dengan saudara jauh, ditambah lagi janji Alloh untuk membuka pintu rezeki jika kita tidak enggan bersilaturrahim. Kalau dirunut, sebenarnya tidak begitu sulit untuk sekedar kirim surat atau dengan kecanggihan teknologi bisa melalui sms. Namun demikian, harapannya sms tidak lantas membuat seseorang malas untuk berkunjung ke rumah kerabat yang mungkin cuma berjarak beberapa kilometer. Sangatlah banyak yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan Ramadhan kita sebelumnya yang mungkin masih sama seperti bulan-bulan lain.

Satu lagi bingkisan yang begitu cantik untuk hamba-Nya yang ingin meraih derajat taqwa. I’tikaf telah Alloh persiapkan, tinggal kita saja, ingin memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai sarana agar semakin dekat dengan Rabb kita yang Maha Bijaksana ini atau membiarkan saja bagai angin lalu. I’tikaf merupakan suatu ibadah dimana seorang hamba yang berdiam diri di masjid dapat merasa dekat sekali dengan Penciptanya, merenungi segala apa yang telah diperbuat, kembali meluruskan niat dan menilik kembali hakikat hidup di dunia ini hanyalah untuk Alloh ’Azza w jalla. Mensyukuri apa yang telah Alloh berikan dengan menata rencana-rencana kehidupan mendatang serta mengisi dengan banyak ibadah yang membuat seorang hamba makin dan teramat dekat dengan Alloh, yaitu dengan sholat, tilawah dan berdzikir. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, itu yang Alloh perintahkan. Meski manusia zaman sekarang terlihat amat sibuk dengan berbagai aktivitasnya seperti pekerjaan yang sulit memberikan waktu luang selama sepuluh hari atau perkuliahan dan lain sebagainya, tidaklah mengapa jika kita punya waktu beberapa hari, jikalau tetap sulit untuk meluangkan barang satu hari saja, maka beberapa jam pun tak apa, sesuai kemampuan kita masing-masing karena sedetik saja waktu yang kita luangkan untuk mengingat Alloh adalah bentuk penghambaan yang tidak mungkin Alloh biarkan begitu saja. Telah Alloh turunkan kabar mulia melalui Rasul kita Nabi Muhammad shalallahu ’alayhi wasallam bahwa salah satu malamnya adalah malam Lailatul Qadr, malam seribu bulan, malam yang hanya sekali dalam setahun dan orang-orang istimewa saja yang bisa memperoleh malam yang utama ini. Tentu tidak sembarang orang dapat meraih malam yang mulia ini. Orang yang telah Alloh pilih karena keimanannya, karena kesungguhannya mengisi detik-detik pahala dengan ibadah-ibadah yang khusus untuk Rabb tercinta, Alloh subhanahu wa ta’ala. Kapankah kita mendapat malam yang dirindukan olah seluruh hamba Alloh tersebut? Hanya kita yang mampu mengusahakan, sisanya biar Alloh yang menentukan. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Telah tampak kebesaran Alloh di bumi dan di langit, malam, siang, Ramadhan, semua bisa dirasakan dihayati hanya oleh orang-orang yang berpikir. Nah, kita mau masuk ke dalam golongan orang-orang berpikir atau tidak, itu adalah pilihan. Jangan sampai kita menyesal saat Ramadhan berakhir, sholat masih seadanya, sedekah pas-pasan, silaturahim kalau sempat, tilawah baru berapa ayat, taubatnya taubat sambel. Na’udzubillahimindzalik.

Ramadhan mendatang belum tentu kita dapat menemuinya, sahur besok juga tidak ada yang bisa menjamin apakah kita bisa bangun. Sekarang saatnya berbenah, jangan sampai bulan istimewa ini hanya didapatkan keberkahannya oleh segelintir orang saja. Bukankah kita ingin menjadi bagian dari mereka yang didoakan oleh para malaikat dan dimuliakan di akhirat nanti? Hanya kita yang bisa menjawab. Wallahu a’lam bishawab.

(UK, 2009)