Duh, di Balik Cadarnya, Ternyata Mereka…

-Catatan kecil, perjalanan hidayah (bagian 1)-

pearl-in-shell_square

Maaf saudariku yang menutup wajahnya. Maaf saudariku yang berpakaian gelap dan menutupi tubuhnya dengan kain lebar. Pertama kali saya melihat orang berpenampilan seperti Anda, spontan yang saya pikirkan adalah “gak modis”, “pasti orangnya gak kenal gaya”, “pasti orangnya jarang cuci baju nih, bajunya warna gelap, jadi kotor pun gak ketahuan”. Ya, jujur, seperti itulah saya.

Risih sekali melihatnya, belum lagi gamis yang panjang, terinjak-injak oleh alas kaki sehingga kumal berdebu. Tangan ini rasanya ingin sekali mengibas-ngibaskan bagian yang kotor itu sampai bersih dan debunya hilang. Duh, risih mbak rasanya. Continue reading

Advertisements

Masihkah Kau seperti yang Dulu Kukenal ?

ws_good_morning_sun_1024x768

Judul Asli : Sekuntum Surat Buat Kawanku

Syukur dan tahmid terbingkai indah dalam sanjungan hamba untuk Dzat Yang Maha Pemurah. Dia-lah dengan taufik dan hikmah-Nya, yang memilihkan derajat tinggi untuk hamba atau hina berkepanjangan.

Shalawat serta salam terangkai elok dalam doa hamba kepada baginda agung, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alayhi wasallam. Beliaulah dengan penuh kasih dan sayang, yang telah mengarahkan jalan-jalan mudah menuju keabadian surga.

Kawan…

Lama sudah rasanya kita tidak berjumpa. Ada rindu yang mengejar sebenarnya, jika sekian waktu berpisah. Sebab, engkau adalah kawan dekatku. Karena, kita pernah berjalan dan hidup bersahabat.

Namun, itu dahulu kala…

Saat kita masih disatukan oleh majelis ilmu. Saat semangatku dan semangatmu dalam thalabul ‘ilmi bagai banjir bandang yang tak terbendung. Ya, momen-momen indah kita dalam suka duka belajar agama.

Kawan…

Masihkah teringat olehmu? Saat orang tua kita terlihat marahkarena cara berpakaian kita yang berubah. Apalagi ketika kita mulai senang dan gemar menilai segala sesuatu dengan pandangan agama ?

Dan, orang tua kita pun akhirnya memaklumi. Sebab, kita masih berdarah muda. Suka dengan hal-hal baru dan menantang.

Masihkah pula engkau teringat? Saat nama-namakita dipanggil dalam sebuah dewan guru. Karena kita terlambat masuk kelas demi menegakkan shalat dzuhur berjama’ah ?

Dan, akhirnya kita pun menang. Sebab, sebagian guru pun mendukung. Sekali lagi, sebab kita masih muda. Semangat dan sikap idealis kita begitu tinggi.

Kawan…

Masihkah engkau seperti yang dulu ? Bersemangat membara untuk fokus belajar ilmu-ilmu agama ?

Kawan…
Engkau begitu cerdas. Daripada menghafal rumus dan aksioma dalam ilmu matematika, apakah tidak sebaiknya engau menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an?  Aku yakin engkau pasti mampu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.

Engkau sungguh pintar. Daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo dan familianya, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lengkap dengan sanadnya? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal hadits.

Engkau benar-benar pandai. Daripada engkau menghafal vocabulary dan rumus-rumus tense dalam Bahasa Inggris, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal mufrodat Bahasa Arab dan menguasai tata bahasa Arab ? Aku yakin engkau dapat menjadi seorang ahli nahwu dan sharaf.

Engkau memiliki kekuatan mengingat yang tinggi. Daripada engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam lintasan sejarah romawi dan daratan eropa, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ? Aku yakin engkau mampu menjadi seorang ahli tentang sejarah Islam.

Kawan…

Dengan kemampuan, kecerdasan, dan kemauan juga tentu dengan pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla, aku yakin engkau bisa menjadi seorang pembimbing agama.

Namun…

Di mana engkau sekarang?

Kemana engkau pergi ?

Apalagi yang sedang engkau kejar ?

Kawan…

Sedih rasanya saat mendengar tentangmu kini. Cahaya ilmu di wajahmu, telah tertukar dengan gelapnya dosa. Sujud dan rukukmu yang lalu telah berubah menjadi langkah-langkah cela. Doa dan dzikirmu telah berganti nada dan lagu.

Engkau bukan yang dahulu lagi.

Kawan…

Sekuntum surat ini aku rangkaikan untukmu. Moga-moga engkau teringat kembali akan tekad dan cita-citamu untuk menjadi seorang ulama’, penerang umat manusia.

Sungguh, do’aku selalu ada untukmu.

Oleh: Abu Nasim Mukhtar dalam buku Pemuda di Warna-Warni Thalabul ‘Ilmi