Bolehkah Merayakan Ulang Tahun dalam Islam?

milad1

Ulang tahun. Ya, kata-kata itu pasti sudah tidak asing di telinga kita. Berbagai macam kebiasaan yang dilakukan untuk merayakan ulang tahun. Meniup lilin yang diletakkan di atas kue, memotong kue, memberi kado atau hanya sekedar mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”. Tapi, tahukah kalian bahwa hal tersebut sangat jauh sekali dari kebiasaan nabi kita tercinta, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Continue reading

Advertisements

Masihkah Kau seperti yang Dulu Kukenal ?

ws_good_morning_sun_1024x768

Judul Asli : Sekuntum Surat Buat Kawanku

Syukur dan tahmid terbingkai indah dalam sanjungan hamba untuk Dzat Yang Maha Pemurah. Dia-lah dengan taufik dan hikmah-Nya, yang memilihkan derajat tinggi untuk hamba atau hina berkepanjangan.

Shalawat serta salam terangkai elok dalam doa hamba kepada baginda agung, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alayhi wasallam. Beliaulah dengan penuh kasih dan sayang, yang telah mengarahkan jalan-jalan mudah menuju keabadian surga.

Kawan…

Lama sudah rasanya kita tidak berjumpa. Ada rindu yang mengejar sebenarnya, jika sekian waktu berpisah. Sebab, engkau adalah kawan dekatku. Karena, kita pernah berjalan dan hidup bersahabat.

Namun, itu dahulu kala…

Saat kita masih disatukan oleh majelis ilmu. Saat semangatku dan semangatmu dalam thalabul ‘ilmi bagai banjir bandang yang tak terbendung. Ya, momen-momen indah kita dalam suka duka belajar agama.

Kawan…

Masihkah teringat olehmu? Saat orang tua kita terlihat marahkarena cara berpakaian kita yang berubah. Apalagi ketika kita mulai senang dan gemar menilai segala sesuatu dengan pandangan agama ?

Dan, orang tua kita pun akhirnya memaklumi. Sebab, kita masih berdarah muda. Suka dengan hal-hal baru dan menantang.

Masihkah pula engkau teringat? Saat nama-namakita dipanggil dalam sebuah dewan guru. Karena kita terlambat masuk kelas demi menegakkan shalat dzuhur berjama’ah ?

Dan, akhirnya kita pun menang. Sebab, sebagian guru pun mendukung. Sekali lagi, sebab kita masih muda. Semangat dan sikap idealis kita begitu tinggi.

Kawan…

Masihkah engkau seperti yang dulu ? Bersemangat membara untuk fokus belajar ilmu-ilmu agama ?

Kawan…
Engkau begitu cerdas. Daripada menghafal rumus dan aksioma dalam ilmu matematika, apakah tidak sebaiknya engau menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an?  Aku yakin engkau pasti mampu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.

Engkau sungguh pintar. Daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo dan familianya, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lengkap dengan sanadnya? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal hadits.

Engkau benar-benar pandai. Daripada engkau menghafal vocabulary dan rumus-rumus tense dalam Bahasa Inggris, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal mufrodat Bahasa Arab dan menguasai tata bahasa Arab ? Aku yakin engkau dapat menjadi seorang ahli nahwu dan sharaf.

Engkau memiliki kekuatan mengingat yang tinggi. Daripada engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam lintasan sejarah romawi dan daratan eropa, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ? Aku yakin engkau mampu menjadi seorang ahli tentang sejarah Islam.

Kawan…

Dengan kemampuan, kecerdasan, dan kemauan juga tentu dengan pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla, aku yakin engkau bisa menjadi seorang pembimbing agama.

Namun…

Di mana engkau sekarang?

Kemana engkau pergi ?

Apalagi yang sedang engkau kejar ?

Kawan…

Sedih rasanya saat mendengar tentangmu kini. Cahaya ilmu di wajahmu, telah tertukar dengan gelapnya dosa. Sujud dan rukukmu yang lalu telah berubah menjadi langkah-langkah cela. Doa dan dzikirmu telah berganti nada dan lagu.

Engkau bukan yang dahulu lagi.

Kawan…

Sekuntum surat ini aku rangkaikan untukmu. Moga-moga engkau teringat kembali akan tekad dan cita-citamu untuk menjadi seorang ulama’, penerang umat manusia.

Sungguh, do’aku selalu ada untukmu.

Oleh: Abu Nasim Mukhtar dalam buku Pemuda di Warna-Warni Thalabul ‘Ilmi

Siapa Temanmu? Itulah Kamu!

image

Pernahkah kamu membayangkan
kehidupan tanpa seorang teman ?
Namun meskipun demikian saudaraku
yang dirahmati Allâh ,hendaklah kita hati-hati memilih teman pergaulan.
Karena sesungguhnya banyak
mempengaruhi prilaku kita. Bahkan dapat kita katakan bahwa baik buruknya prilaku kita, banyak ditentukan oleh tema-teman pergaulan kita.
Hal ini bukan teori baru, sejak
dahulu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sudah menasihatkan kita untuk berhat-hati memilih teman pergaulan. Beliau mengumpamakan
teman yang baik seperti penjual minyak wangi, yang kalau kita berteman dengannya, paling tidak kita akan mendapatkan wanginya kalaupun tidak membelinya. Sedangkan teman
yang buruk beliau umpamakan
seperti pandai besi, yang jika kita
berteman kepadanya, kalau tidak
terbakar, minimal akan terkena
percikan apinya. (Muttafaq alaih)
Bahkan, semakin dewasa
seseorang, semakin besar pengaruh temannya membekas dalam dirinya, lebih dari pengaruh orang tuanya, gurunya atau sanak saudaranya. Sehingga banyak kita dapatkan dalam kenyataan seseorang yang menjadi baik atau buruk karena pada awalnya terpengaruh oleh temannya.
Maka tepatlah kata seorang penyair:

Tentang seseorang, jangan kamu tanya siapa dia, tanyalah temannya. Karena seseorang akan mengikuti tingkah pola temannya.

Saudaraku yang dimuliakan Allâh.
Sekali lagi, beri-hatilah memilih
teman. Jangan sampai kita menyesal ketika segala sesuatunya telah
terlambat. Sebab di akhirat nanti
banyak orang-orang yang menyesal karena salah memilih
teman, sehingga -saat itu- mereka berangan-angan seandainya di dunia dahulu dia tidak memilihnya sebagai
teman dekatnya.

ﻳﻮﻳﻠﺘﻰ ﻟﻴﺘﻰ ﻟﻢ ﺃﺗﺨﺬ ﻓﻼ ﻧﺎﺧﻠﻴﻼ . [
ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ : ٢٨ ]
“Kecelakaan besarlah bagiku, seandainya saja (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman (akrab) ku.” [al-Furqon: 28]

Maka prinsip kita bukan lagi sekedar: “Satu musuh sudah banyak, seribu
teman masih sedikit”, namun lebih dari itu, “SATU TEMAN BURUK
SUDAH BANYAK, SERIBU TEMAN BAIK
MASIH SEDIKIT.”

*semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat
Disalin dan diedit seperlunya dari buku “Nasihat dari Hati ke Hati” karya Abdullâh Haidir

TRANSKRIP CERAMAH UMMU QONITA “KIPRAH MUSLIMAH DI KAMPUS” (I)

TRANSKRIP CERAMAH UMMU QONITA “KIPRAH MUSLIMAH DI KAMPUS” (I)

Muqoddimah tentang Kedudukan Mulia Wanita di dalam Islam (‘afwan, sedikit tertinggal di menit-menit awal, bisa sambil menyimak makalah KISMIS 2) Ibu. Kepada siapa kita harus berbakti pertama kali? Ummuka ummuka ummuka tsumma abuka kemudian yang terdekat yang terdekat, ya? Ibu … Continue reading